Membela dengan Sastra, Pidato Kebudayaan Ahmad Tohari

Pengantar admin:

Pada Jumat malam 28 Maret 2014 lalu, diselenggarakan Pidato Kebudayaan dan Penyerahan Penghargaan Asrul Sani yang digagas oleh NU Online. Untuk Penghargaan Asrul Sani peraih Kesetiaan Berkarya adalah H.Usup Romli HM, Penulis Serba Bisa H.Agus Sunyoto, Sineas Berbakti Tatiek Maliyati, Pelindung Karya KH.Chizni Umar Burhan, dan Tokoh Legendaris diberikan kepada H.Muammar ZA.

Ada pun penyampai pidato kebudayaan adalah Ahmat Tohari. Ada hal menarik–menurut saya, sebelum menyampaikan pidato, Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa pidatonya itu tidak penting. Yang penting–sebagai penuangan gagasan dan pemikirannya dalam bersastra dan berbudaya, adalah salah satu cerpennya, Pengemis dan Shalawat Badar, yang malam itu akan juga dibacakan oleh salah satu pengisi acara setelah penyampaian pidato.  Dan berikut adalah teks lengkap Pidato Kebudayaan Ahmad Tohari “Membela dengan Sastra”.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hadirin yang saya hormati…

SEJAK Indonesia merdeka pada tahun 1945 telah muncul tiga dokumen yang berisi konsep kebudayaan Indonesia. Ketiga dokumen kebudayaan itu adalah Surat Kepercayaan Gelanggang (1951); Mukaddimah Lembaga Kesesenian Rakyat (LEKRA,1956); dan Manifest Kebudayaan (1963).

Konsep kebudayaan yang dicitakan dalam Surat Kepercayaan Gelanggang mengacu ke arah kebudayaan Barat yang bersifat sekuler, antroposenstris serta elitis. Agaknya para pemikir kebudayaan saat itu masih sangat terpesona oleh kemajuan Barat sehingga mereka mencitakan kebudayaan Indonesia berkiblat ke Barat.

Situasi perang dingin yang mulai menghangat menjelang tahun 1960-an menyeret Indonesia ke dalam  tarik-menarik antara pengaruh blok Barat dan blok Timur, juga di bidang pemikiran kebudayaan. Maka sebagai tandingan atas lahirnya Surat Kepercayaan Gelanggang yang mengarah ke Barat, lahirlah Mukaddimah Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) yang  mengarah ke blok sosialis di Timur, sama-sama sekuler, antroposentris, tapi punya kecenderungan populis. Meskipun begitu, polemik kebudayaan pun berkecamuk sengit  di antara pendudukung kedua kubu tersebut.

Di tengah sengitnya polemik antara pengikut “kebudayaan Barat” dan pengikut “kebudayaan Timur” yang sama-sama sekuler itu muncullah pada tahun 1963 Manifest Kebudayaan yang seolah-olah hadir sebagai konsep alternatif kebudayaan Indonesia. Tetapi ternyata Manifest Kebudayaan, yang pada kalimat terakhirnya berbunyi “Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami”, disanggah dan dicerca habis-habisan oleh para pengikut Mukadimah Lekra.

Bagi para budayawan Lekra, baik SKG maupun MK mereka anggap sebagai konsep kebudayaan yang sama-sama borjuis. Dan pembantaian kebudayaan ini baru berakhir pada tahun 1965 setelah PKI dibubarkan, dan Lekra pun gulung tikar.

Hadirin yang saya muliakan..

Saya mulai berkarya sastra pada tahun 1971. Sebagai pribadi yang dekat dengan orang-orang Lesbumi saya memilih dengan sadar konsep kebudayaan yang berfalsafah Pancasila sebagai yang tercantum dalam Manifest Kebudayaan. Karena mengakui Pancasila sebagai falsafah kebudayaan Indonesia maka dalam berkarya saya punya niatan yang lebih tinggi daripada sekadar kepentingan pribadi maupun kepentingan kesusastraan semata.

Demikianlah, maka selalu ada pertanyaan yang mendasar yang muncul ketika saya akan memulai menulis sebuah karya. Pertanyaan itu:

Pertama, “Mengapa kamu menulis karya sastra?”

Kedua, “Apa niatmu melakukan hal itu?”

Mengapa seorang sastrawan, dalam hal ini saya menulis karya sastra, jawabnya sederhana. Yakni, karena saya punya kegelisahan jiwa dan ingin melahirkan kegelisahan itu. Setelah kegelisahan itu lahir sebagai karya sastra, maka terserah kepada masyarakat; mau membaca, lalu menangkap kandungan nilai yang terkandung dalam karya sastra itu, atau membiarkan karya saya tersimpan di rak-rak buku. Dalam hal ini saya sebagai penulis sudah menyelesaikan bagian saya.

Tentang niat menulis karya sastra jawabannya banyak. Adalah sah apabila karya sastra ditulis dengan niat mengaktualisasikan diri. Siapa saja boleh membangun eksistensi dirinya dengan jalan menulis karya sastra. Bahkan boleh saja sebuah karya sastra ditulis dengan niat mendapatkan uang, dan mengarahkan karya itu agar laris di pasaran. Ada lagi jawaban yang sering terdengar bahwa sastra ditulis demi kesusastraan itu sendiri.

Sebagai orang biasa dalam dunia kesusastraan Indonesia, saya merasa semua penjelasan itu ada benarnya. Tetapi buat saya semua itu tidak menjadi jawaban yang tuntas. Memang karena menulis karya sastra maka saya mendapat uang, dan nama saya dikenal di tengah masyarakat. Namun masih ada yang belum terwakili melalui penjelasan itu. Uang dan nama bukan segalanya. Atau, apakah saya bersastra untuk kesusastraan semata? Tidak cukup juga. Penjelasan ini seperti membawa saya ke arah jalan buntu.

Hadirin yang saya hormati;

Setiap karya sastra lahir dari seorang yang berada dalam keadaan sadar. Dengan demikian karya sastra lahir dengan sebuah motivasi atau maksud. Dan bila maksud itu bukan hanya untuk pemenuhan kepentingan sempit (cari uang, cari nama, atau sastra untuk sastra) maka adakah sesuatu yang lebih mendasar?

Saya termasuk orang yang percaya bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Maka niat harus ditata dan dibangun dengan baik agar setiap karya sastra yang saya tulis bisa dipertanggungjawabkan. Jadi apa niat saya bersastra?

Seluruh karya sastra saya ditulis dengan niat menjalankan perintah, “Hai orang-orang beriman jadilah kalian pemebela-pembela Tuhan”.

Apakah Tuhan butuh pembelaan? Tuhan Mahaperkasa, Mahamandiri Mahakuasa, jadi Tuhan sama sekali tidak butuh pembelaan. Meyakini pribadi Tuhan butuh pembelaan adalah kekonyolan yang nyata. Maka kewajiban menjadi pembela Tuhan sesungguhnya adalah kewajiban membela amanat dan “alamat”-Nya.

Amanat Tuhan kepada manusia tidak lain adalah keadaban kehidupan, yang dibangun melalui penegakan nilai-nilai keadaban seperti keadilan, kebenaran, kasih sayang, martabat kemanusiaan, pranata sosial yang baik, dan seterusnya.

Jelasnya, amanat Tuhan kepada manusia adalah penyebaran kasih sayang kepada seluruh isi alam. Melalui karya sastra yang semuanya menyangkut kehidupan orang-orang terpinggirkan saya bermaksud memberikan kasih sayang kepada mereka. Tentu, pembelaan secara sastrawi melalui persaksian dan pewartaan tidak akan serta merta mengubah keadaan orang-orang teraniaya itu. Sastra hanya punya tugas mengetuk nurani masyarakat bila terjadi gejala yang menandai adanya pelanggaran terhadap nilai keadaban.

Maka apakah pembelaan terhadap nilai-nilai keadaban melalui karya sastra bisa berhasil?

Sastra hanya menyampaikan nilai-niai yang terkandung dalam suatu narasi cerita kepada pembaca. Sastra hanya menyapa jiwa. Maka pembaca sendiri yang, kalau mau, mengolah penghayatan nilai-nilai itu menjadi kesadaran dalam jiwanya. Dan bila perkembangannya berlanjut maka kesadaran itu akan bergerak menjadi perilaku nyata.

Para hadirin yang baik..

Pemberdayaan sastra sebagai “pembelaan” terhadan Tuhan juga bisa diarahkan kepada (alamat-alamat) Tuhan. Tuhan Yang Mahabijaksana tentu mahatahu bahwa kita adalah ciptaan yang begitu lemah dan nisbi. Oleh karena kita tidak akan mampu mencapai Dirinya Yang Mahakuat dan Mutlak. Maka dengan kasih-sayang-Nya, Tuhan ‘menuliskan alamat-alamant-Nya’ di bumi yang bisa dan mudah kita capai. Demikian, maka orangtua kita, kaum miskin, anak yatim, mereka yang tertindas adalah orang-orang yang pantas kita yakini menjadi “alamat-alamat” Tuhan.

(Kita juga percaya tentang  adanya percakapan antara seorang penghuni neraka yang bertanya. “Ya Tuhan, mengapa aku Engkau masukkan ke dalam neraka ini?” dan Tuhan menjawab, “Karena kamu tidak menjenguk ketika Aku sakit.” Si penghuni neraka bertanya lagi, “Bagaimana Engkau Yang Mahakuasa sakit?” Tuhan menjawab, “Tetanggamu yang sakit, dan kau tidak menjenguknya.”)

Istilah ‘tetangga yang sakit” tentu bisa ditafsir secara lebih luas menjadi orang-orang di sekeliling kita yang menderita, baik secara badani, batini, maupun sosial. Mereka bisa berwujud sebagai kaum gelandangan, anak-anak yang tak sempat bersekolah, mereka yang dihukum secara zalim dan sebagainya.

Dan sastra yang bertanggung jawab kepada keadaban punya kewajiban membela mereka. Tentu sesuai dengan kodratnya, pembelaan yang yang bisa dilakukan oleh sastra terhadap “Aku yang sakit” yakni kaum miskin, mereka yang tertindas, dan sebagainya, adalah pembelaan yang bersifat moral-sastrawi. Demikian, karena sastra tidak punya kekuatan apapun kecuali sesuatu yang diharapkan bisa menyentuh kesadaran dan jiwa manusia.

Hadirin yang mulia..

Karya sastra hanya bisa dilahirkan oleh mereka yang lebih dulu telah cukup membaca. Dan tentu bukan suatu kebetulan bila membaca merupakan perintah pertama Tuhan dalam kitab suci kita: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan …”.

Sasaran apakah kiranya yang diperintahkan Tuhan untuk dibaca oleh manusia?

Tentu bukan hanya kitab melainkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi yang semuanya adalah milik Tuhan semata. Orang Minang bilang, alam takambang jadi guru, orang Jawa bilang, meguru maca sastra kang gumelar. Kedua ungkapan itu mempunyai maksud yang sama, bahwa manusia diperintahkan membaca seluruh ciptaan Tuhan yang ada di langit dan di bumi. Karena, tidak ada kesia-siaan dalam penciptaan setiap makhluk; semuanya hadir membawa bukti-bukti kebesarannya.

Bila manusia  membaca dengan nama Tuhan terhadap sasaran yang baik maupun sasaran buruk, dia akan mendapat berkah ilmu dan kearifan. Membaca sejarah atau perilaku orang baik akan didapat pengetahuan dan kesadaran untuk menirunya.

Sebaliknya, membaca dengan nama Tuhan perilaku orang-orang yang mungkar maka akan dapat pengetahuan dan kesadaran untuk tidak menolaknya. Bahkan pembacaan yang ikhlas atas benda-benda yang kotor pun kita akan sampai kepada tanda-tanda kebesaran Tuhan. Misalnya, di bawah lensa mikroskop kita akan melihat kehidupan mahluk ciptaan Tuhan yang berwujud jutaan bakteria dalam secuil tinja manusia.

Hadirin yang terhormat…

Dalam pengalaman pribadi sebagai sastrawan, saya pernah menghadapi kondisi batin yang berat yakni ketika hendak menulis novel Ronggeng Dukuh Paruk pada tahun 1980.

Novel tersebut menceritakan kehidupan seorang ronggeng yang dituduh terlibat dalam pemberontakan PKI tahun 1965. Dua kata kunci “ronggeng” dan “PKI” adalah dua hal  yang sering dianggap berada di luar batas wilayah kesantrian dari mana saya berasal. Selain itu, hal-hal yang berbau PKI adalah isu yang amat sensitif pada era Suharto terutama di mata aparat keamanan.

Maka ketika novel ini selesai terbit pada tahun 1984, sebagian masyarakat menanggapinya dengan bertanya bernada menggugat, mengapa sasaran yang saya pilih adalah dunia ronggeng, yang terlibat PKI pula? Ya, semua orang tahu ronggeng adalah perempuan penari kesenian radisi yang mengobral birahi. Maka pantas para santri dicegah untuk menjauhinya.

Tetapi pada sisi lain, sejak saya masih ingusan dan ikut tahlilan selalu dibacakan ayat, “Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”

Maka saya pun berpikir dan percaya perwujudan ronggeng pun merupakan gejala  yang harus dibaca (dengan nama Allah); dari mana, bagaimana, mengapa. Dengan demikian  kita bisa menyikapinya dengan pengetahuan cukup.

Hadirin yang saya muliakan…

Mulai tahun 1960 PKI mulai membangun kekuatan fisik untuk melakukan makar. Di daerah saya, Banyumas, mereka membentuk kekuatan bersenjata di bawah tanah. Pasukan ini sering melakukan perampokan untuk merampas harta sekaligus menciptakan kerawanan sosial. Kurang ajarnya mereka mengaku sebagai pasukan DI/TII ketika melakukan penggarongan dan pembunuhan. Kami baru tahu siapa mereka sebenarnya setelah mereka tertangkap. Di antara pasukan yang mengaku DI/TII itu ada guru saya yang menjadi aktivis PKI.

Dalam dunia sastra, saya membaca karya-karya penulis kiri di Harian Bintang Timur dan Harian Rakyat serta buletin Indonesia Baru. Mereka suka sekali menista para tokoh agama; terutama kiai dan haji. Keluarga kami sendiri dinistakan oleh Barisan Tani Indonesia (di bawah PKI) sebagai tuan tanah dan setan desa yang harus diganyang hanya karena kami memiliki 1,5 hektar sawah. Maka tak kurang-kurang rasa sakit saya karena ulah orang-orang komunis.

Maka saya senang ketika PKI ternyata kalah dalam kudeta tahun 1965. Tetapi kemudian saya melihat gejala yang luar biasa. Rumah mereka dibakar massa. Bahkan mereka ditembak mati di depan umum, di depan mata saya. Di seluruh Indonesia ratusan ribu dibunuh. Keluarga mereka dilucuti hak-hak sipilnya hingga tiga atau empat generasi. Ini gejala kemanusiaan yang dahsyat, dan muncul pertanyaan dalam jiwa saya; apakah kekejaman massif ini tidak melanggar keadaban? Dan, bagaimana saya harus memahami sabda Tuhan bahwa Dirinya adalah Zat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang?

Demikian, maka dalam novel RDP terasa ada empati saya terhadap mereka, terutama terhadap orang-orang biasa yang dibunuh karena dituduh terlibat PKI. Dalam keyakinan saya, empati ini adalah pembelaan terhadap keadaban yang menjadi amanat Tuhan. Sayangnya, pihak aparat keamanan memandang sikap saya ini sebagai bukti kedekatan saya dengan kaum komunis sehingga saya diinterograsi selama lima hari di Jakarta. Lima hari yang berat. Untung pada hari kelima ada interogrator yang bertanya kepada saya, adakah orang yang bisa menjamin bahwa saya bukan simpatisan komunis.

Pertanyaan tersebut terasa indah di telinga saya. Maka kemudian saya menulis sebuah nama dengan nomor telponnya. Saya menyilakan para interogrator menghubungi si empunya. Nama yang saya tulis: Abdurrahman Wahid.

Mereka ternyata membeku saja, dan saya boleh pulang.

Hadirin yang saya hormati…

Saya mengakhiri pidato ini dengan permohonan ampunan kepada Tuhan atas segala kesalahan saya, serta permohonan maaf kepada para hadirin atas segala kelancangan saya. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, 28 Maret 2014,

Iklan

Dari Hari ke Hari; Kisah Anak Jakarta Terdampar di Solo

Membaca Dari Hari ke Hari, saya seolah terlupa bahwa penulis novel ini, Mahbub Djunaidi, sudah tiada. Bahkan bahwa novel ini sudah berusia 40 tahun pun, tidak terasa oleh saya pada awalnya.

Novel yang juga pernah diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada 1975 ini, kembali hadir di hadapan kita sejak diterbitkan ulang pada Februari 2014, oleh Majalah Surah bekerjasama dengan Yayasan Saifuddin Zuhri.

13957673822089909550Sampul depan terbitan terbaru novel Dari Hari ke Hari.

Kepiawaian Mahbub dalam penulisan novel ini, seperti juga dalam ratusan tulisannya yang tersebar di berbagai media di antaranya Kompas, Tempo, dan Merdeka pada sebelum tahun 1995, sangat kentara. Gaya yang tampaknya sederhana, tidak berumit-rumit dalam penggunaan bahasa dan kosakata, menjadi ciri khas dalam keseluruhan novel yang juga merupakan pemenang Sayembara Roman DKJ 1974 ini.

Lihat misalnya gaya Mahbub yang asyik itu, langsung terasa sejak bagian pembuka novel ini.

Sore yang jatuh membuat kereta api, si Jerman tua bangka itu, menjadi anggun dan muda. Sekarang dia memekik-mekik, waktunya mengambil kepastian: inilah daerah republik yang betul-betul republik. Sungai Bekasi yang malas, sudah kelewat, terlempar jauh ke deretan gerbong belakang. Bau batu bara dan jerami menampar dari hampir semua jurusan. (Dari Hari ke Hari halaman 2)

Penempatan tokoh utama sebagai pencerita yang masih berusia belasan tahun, menjadi daya tarik lainnya dalam novel ini. Pencerita yang masih anak-anak, yang dengan kepolosannya mengisahkan kejadian yang terjadi dan pemikirannya sebagai anak-anak, menimbulkan kesan bahwa novel ini, walau menceritakan kejadian yang berat, menjadi kisah ringan yang segar.

Tak ada semuanya itu. Pagi ini kota sudah berubah tabiat. Dia tidak luwes lagi melainkan linglung. Terdengar kabar dari Yogya, tiada harapan perundingan lagi. Di hari kesebelas bulan Desember ’48, Belanda sudah memutuskan begitu. Komisi tiga negara sudah tidak berdaya, karena Belanda hanya mau mendengarkan suara hatinya sendiri.

Hari berjalan dengan lambat, tak tahu kemana pergi. Yang kelihatan tergesa-gesa hanyalah tentara. Mereka mengusung barang-barangnya keluar, tapi menggotong benda lain masuk. Benda bulat panjang sebesar 7 atau 8 kali buah cempedak. Kata orang, itulah yang namanya bom tarik. Bom! Tarik atau bukan tarik, bom adalah bom. (Dari Hari ke Hari halaman 112)

Dari dua alinea yang saya kutip di atas, kita mendapati bahwa pemikiran yang tercermin dalam kata-kata di atas adalah dari sudut pandang anak-anak. Sehingga dalam menceritakan apa yang diamati, didengar, atau dirasakan dan dipikirkan, benar-benar dari sudut pandang seorang anak.

Karena kepolosan seperti itu, pencerita tidak memaksakan cerita yang membebani, sebuah gaya yang sangat jarang digunakan, mungkin tidak pernah, untuk cerita yang berjenis atau bermuatan sejarah.

Namun demikian, kepolosan dan sudut pandang anak-anak yang semacam itu, tetap menyisakan pesan mendalam dan kemengertian bagi kita sebagai pembaca dewasa. Pada akhirnya kita tahu apa saja kejadian yang tersangkut dengan peristiwa awal kemerdekaan.

Bukan saja peristiwa awal kemerdekaan itu yang menjadi latar, tetapi justru peristiwa-peristiwa awal kemerdekaan itulah yang ingin diceritakan dalam novel ini. Diwakili oleh sebuah keluarga pegawai negeri di Jakarta yang karena perubahan politik pada tahun 1945-1948, mengungsi ke Solo. Peristiwa sejarah apa saja yang terjadi di Solo, yang menjadi miniatur negara, masyarakat dan bangsa Indonesia pada tahun 1945-1948, disajikan dalam novel yang berketebalan 182 halaman ini.

Karena keistimewaannya itulah, pantas saja apabila sastrawan Ahmad Tohari mengatakan kesannya terhadap novel ini, “Secara pribadi, saya tidak kenal Pak Mahbub Djunaidi. Sekali dua kali saja saya papasan dengannya di Jakarta. Tapi di banyak kesempatan saya mengaku santrinya beliau. Sebab karya-karyanya banyak menempel di kepala saya. Dan novel dari Dari Hari ke Hari ini salah satu karya Pak Mahbub yang saya baca berulang-ulang.”

Sementara Lukman Hakim Saifuddin dari Yayasan Saifuddin Zuhri, yang juga Wakil Ketua MPR ini, menyampaikan harapannya agar Dari Hari ke Hari, “…menjadi bacaan bermutu yang merangsang kembali kesadaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia, terutama bagi kalangan generasi masa kini.”

*

Bencana Gunung Kelud dalam Tafsir dan Reaksi

(Tulisan ini sebelumnya saya posting di Kompasiana)

Bencana letusan Gunung Kelud yang terjadi Kamis malam, 13 Februari 2014 beserta efek yang ditimbulkannya sampai beberapa waktu setelahnya, selain meramaikan pemberitaan media masa, juga melengkapi reaksi masyarakat yang mereka tuangkan melalui media sosial, termasuk facebook. Para pengguna media sosial facebook, melaui status dan foto yang mereka upload, mengabarkan keadaan tempat mereka yang terkena dampak letusan Gunung Kelud.

Debu 2

Keadaan sebuah kampung di Jogjakarta yang terkena abu dampak letusan Gunung Kelud. Foto oleh Aryo Gatza

“Kampungku yang hijau, kini berwarna abu-abu. Begitupun langit di atasnya, tertutup abu Gunung Kelud,” tulis seorang teman, satu di antara ribuan kabar yang diunggah melalui media sosial. Sementara teman-teman yang tidak terkena dampak letusan, menanyakan kabar teman lainnya.

Seorang teman mengungkapkan status sederhana di fb: “Gunung Kelud meletus, hanya Gunung Kelud sendiri yang tahu bahwa ia perlu meletus. Manusia tidak tahu.”

Ada juga beberapa teman yang ingatan mereka terlempar kepada masa kecil saat menggemari gambar-gambar kartun melalui poster yang diproduksi oleh Gunung Kelud.

Teman saya yang lain mengatakan harapannya yang khusus ia kirimkan ke inbok fb saya: “Semoga Gunung Merapi gak marah dilempari abu oleh Gunung Kelud.”

*

Lain lagi dengan teman saya yang satu ini. Ia mengatakan bahwa Gunung Kelud sudah terlalu banyak bermuatan sirik. Ia memaparkan alasannya bahwa banyak masyarakat yang menaruh sesaji di sekitar Gunung Kelud. Oleh sebab itu, letusan Gunung Kelud adalah reaksi kemurkaan Tuhan atas kesirikan umat manusia.

Teman yang mengaitkan letusan Gunung Kelud dengan tahun Politik 2014 juga ada. Bahkan ia pun melengkapinya dengan sejarah masa lalu bangsa Indonesia.

“Di masa lalu Gunung Kelud meletus…” tulis teman saya melalui statusnya, “…menandakan kelahiran Raden Tetep alias Rajasa Nagara alias Prabu Hayam Wuruk. Pemimpin yang membawa Majapahit menuju kejayaanya. Di tahun 2014 ini, Gunung Kelud memuntahkan laharnya lagi. Apakah pertanda kelahiran pemimpin baru yang akan membawa Indonesia ke puncak kejayaanya? Tanda-tanda sudah ada, pilihan tetap di tangan Anda!!!”

*

Ada tafsiran yang tak kalah menarik tentang bencana Gunung Kelud. Ia mengatakan tafsiran itu melalui statusnya setelah solat Jumat siang ini. Bisa jadi ia terinspirasi menafisrkan setelah mendengar ceramah Jumat. Atau dengan demikian, secara tidak langsung, ia mengungkapkan ulang tafsiran ustad penceramah solat Jumat.

Teman yang mengungkapkan pendapatnya yang dia sertai dengan gambar ayat al-Quran itu menulis: “Maaf bukan bermaksud mengotori al-Quran yang Maha Suci ini. Hanya memberi marker sedikit di surat dan ayatnya. Setelah kulihat dan dengar Sang Ustad berkhotbah Jumat, beliau menyebutkan surat THAAHAA ayat 14. Di situ dijelaskan bahwa kita harus selalu mengingat akan Kuasa Alloh. Hanya Alloh-lah yang patut disembah, bukan yang lain. Dan Sang Ustad menyampaikan kepada jamaah untuk selalu memperhatikan tanda-tanda kebesaran Alloh seperti musibah yang terjadi di 2014 ini.”

QS Toha

Halaman surat Thaahaa dalam al-Quran. Foto oleh Bima Sakti

“Dan setelah kubuka lagi al-Quran yang Maha Suci ini…” masih tulis teman saya, “…kutemukan di Kitab tersebut surat “THAAHAA” surat ke-20 ayat 14, telihatlah angka 20 dan 14. Di sinilah kebesaran Alloh SWT masuk ke dalam hatiku untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Nya.”

Dalam tulisan ini saya kutipkan terjemahan dari ayat dan surat yang dimaksud oleh teman saya itu: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku. Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatku.”

Reaksi, pendapat, tafsiran atau apa pun, syah-syah saja muncul atas terjadinya sesuatu. Ada pun kebenarannya tentu saja hanya Tuhan Sang Maha Tahu yang tahu. Saya pribadi terus menunggu kabar terbaru. Kabar tentang semangat ketabahan dan kesabaran, sehingga masyarakat dimudahkan dalam mengatasi dan menghadapi ketidakmudahan akibat bencana ini.

Juga saya ingin mengungkapkan harapan, masih mengutip teman saya: “Tahun 2014 ini kita harus lebih mengingatkan diri kita lagi untuk tidak lalai kepada Sang Maha Kuasa: Alloh SWT. Aamiin….”

*

Dua Media Online Ini Memuat Berita Menyesatkan

Pada era demokrasi seperti sekarang ini, kehadiran berbagai media masa, sebagai tanda kebebasan pers, tidak bisa dihindarkan. Ini terbukti dengan bermunculannya ratusan surat kabar harian, tabloid dan majalah. Selain itu, tumbuhnya stasiun-stasiun televisi baru, baik lokal maupun nasional, juga menjadi pertanda berkembangnya sistem demokrasi dan kebebasan pers di Indonesia.

Pertumbuhan dan kemajuan teknologi internet, menjadi pendukung lahirnya media masa online. Masyarakat dimanjakan oleh kemudahan mengakses berbagai media online.

Atas hal itu, mau tidak mau, sadar atau tanpa sadar, media masa memiliki pengaruh yang besar bagi masyarakat. Opini yang terbangun dalam masyarakat, sangat ditentukan oleh informasi yang tersaji oleh media masa.

Selain mempengaruhi opini masayarakat, media masa juga mengenalkan banyak kosa kata dan istilah kebahasaan. Melalui kosa kata yang dipakai oleh media masa, masyarakat semakin akrab dengan istilah atau kosakata tertentu yang semula asing atau belum ada.

Istilah “dangdut”, awalnya digunakan oleh Tempo melalui wartawan Putu Wijaya. “Dangdut” yang dipakai Putu untuk menyebutkan jenis musik yang berornamen kendang dan dangdut, semakin diakrabi dan akhirnya biasa digunakan oleh masyakat.

Setelah tahun 1998, media masa semakin besar peranannya dalam mempengaruhi opini masa dan pengenalan istilah-istilah baru. Kata-kata yang awalnya terasa asing, menjadi kata yang semakin sering digunakan bukan hanya dalam penulisan di media masa, namun juga dalam pembicaraan sehari-hari.

Saking dianggap penting dan besar peranannya bagi masyarakat, media masa terkadang luput dari sensor kualitas dan ketepatan. Luput dari sensor kualitas dan ketepatan yang saya maksud tentu saja adalah dari segi isi berita maupun dari pemilihan kata yang digunakan, yang sering kali tidak mencerminkan kebenaran publik.

Anda tentu masih ingat, kasus kesalahan diksi yang digunakan oleh Kompas.com saat mengulas tindakan tidak senonoh yang dilakukan penyair Sitok Srengenge. Kata “Teman tapi Mesra” yang digunakan wartawan dan redaksi Kompas.com untuk menggantikan wanita yang menjadi korban, bukan saja tidak tepat secara bahasa, tetapi juga jika dilihat dari logika.

*

Kompas.com tidak sendirian. Agaknya dalam kasus menabrak logika kebenaran publik, media online memang rajin melakukannya. Seperti tulisan yang baru-baru ini saya temukan pada sebuah media online. Cobalah amati kata-kata pada paragraf pertama berita berjudul Nikahi Vita KDI, Supiah Hadi Ditawari Jadi Artis.

Jakarta-Kasus dugaan pernikahan tidak sah antara Supian Hadi yang merupakan Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Kalimantan Tengah dengan Novita Anggraeni atau Vita KDI memberi berkah tersendiri buat sang bupati.

Sekilas, kalimat ini terasa biasa-biasa saja. Namun, bila diamati pemilihan kata yang tertulis di sana, sangat bertentangan dengan kebenaran publik. Kata “memberi berkah” apakah layak digunakan untuk sebuah “pernikahan tidak sah“?

Sejak kapan pernikahan tidak sah dianggap mengundang berkah? Saya yakin masyarakat mana pun, kelas sosial apa pun, suku dan agama manapun, berkeyakinan bahwa pernikahan itu harus dilakukan secara sah. Dalam artikel ini pernikahan tidak sah, justru dianggap membawa berkah.

*

Kasus Kompas.com dengan TTM-nya cukup membuat saya salut pada akhirnya. Karena dari yang saya baca, redaksi yang meloloskan artikel yang memuat TTM-nya SS, mengundurkan diri. Pun artikelnya dihapus dari kanal Kompas.com. (Benarkah sudah dihapus? Atau saya yang keburu tidak kebagian link-nya?)

Hal yang membuat saya prihatin adalah pada berita kedua. Kira-kira sebulan lalu, saya sudah memposting komentar di bawah artikel itu. Saya tuliskan saran yang intinya mengatakan bahwa sebaiknya wartawan dan redaksi berhati-hati dalam memposting artikel, berhati-hati dalam penggunaan diksi agar tidak menyesatkan masyarakat.

Saya juga mengajukan saran, bahwa kata “memberi berkah” bisa saja diganti “membawa dampak lain”. Tetapi, hingga artikel ini saya tulis lalu sekarang saya posting, redaksional dalam artikel tersebut masih belum berubah. Bahkan komentar saya tidak terlihat. (Apakah memang komputer saya yang eror?)

Lebih prihatin lagi, setelah saya telusuri situs berita ini ternyata beralamat di Banda Aceh. Sebuah kota yang berada dalam propinsi yang istimewa, pun menerapkan syariat Islam bagi masyarakatnya. Pertanyaan atau renungan kritis saya adalah: Apakah Aceh mencoba sedang mencoba keluar dari syariat Islam, sehingga media masanya dibiarkan saja memposting berita ‘pernikahan tidak sah yang memberi berkah’?

Memang kata-kata yang digunakan dalam dua kasus tadi, akan dinilai sebagai berita sampah. Sebab sudah jelas berisi gosip yang tidak berguna untuk Anda dan saya yang sering mengaku sebagai orang cerdas. Konsumen berita-berita gosip semacam itu adalah masyarakat berpola pikir tidak sehebat kita. Maka saya dan Anda mungkin saja langsung paham, bahwa itu menyesatkan dan tidak akan mempedulikannya.

Namun, saudara-saudara kita yang tidak sekritis dan secerdas kita, sangat mungkin disesatkan oleh berita-berita dengan redaksional yang keliru semacam itu. Tidakkah Anda peduli kepada mereka?

***

Kalau Ada Pintunya, Kenapa Buka 24 Jam?

Cerita ini lanjutan dari Penyebab Tutupnya Warung Bakso
Sambil meninggalkan warung bakso yang sudah tutup yang tadinya hati ini diselimuti perasaan kecewa, namun dibuat tertawa-tawa oleh teman saya, teman saya ini lalu menguji saya. “Kamu tahu nggak kenapa toko-toko ada yang buka 24 jam?”Saya lalu berpikir, ini pasti masih gara-gara pintu.”Karena nggak ada pintunya?” tebak saya dengan semangat. Walau jawaban ini mustahil sinkron dengan fakta, nggak apa-apa deh kalau cerita lucu mah.

“Ih, jangan pura-pura bloon deh. Masa toko-toko nggak punya pintu?”

“Ya, abis buka 24 jam sih? Siapa tahu emang nggak ada pintunya, makanya buka terus selama 24 jam.”

“Salah.”
“Bener lah,” saya tidak mau kalah. “Toko, pasar, minimarket, warung, restoran lucu juga. Kalau mau buka 24 jam ngapain pasang pintu? Tinggal cabut aja pintunya kan jelas. Biar pintunya nggak mubadzir. Ya, kan?”
“Nggak dong. Yang dimaksud buka 24 jam tuh pelayanannya, bukan pintunya.”*

Penyebab Tutupnya Warung Bakso

Beberapa waktu lalu saya dan seorang teman, hendak memesan bakso di dekat kontrakan. Semangat sekali langkah kami menuju warung bakso kesayangan. Lidah ini sudah sangat kangen ingin mengunyah sesuatu yang pedas-pedas hangat.

Tapi saya dan teman saya malam itu harus menahan kecewa. Karena warung bakso sudah tutup. Padahal baru jam sembilan malam. Mungkin suasana hujan yang terjadi sejak sore, membuat banyak orang ingin menikmati bakso, membantu menghabiskan bakso lebih cepat.

“Tutup, Bro. Laper banget nih,” keluh saya.

“Tahu nggak kenapa warung baksonya tutup?” teman saya malah balik tanya.

“Karena sudah habis, kan?”

“Iya, kenapa tutup kalau sudah habis?”

“Orangnya mau tidur.”

“Kenapa ditutup kalau orangnya mau tidur?”

“Biar aman.”

“Ya biar aman kenapa tutup?”

“Tau ah,” saya kesal sekali.

“Yeaah. Nih kukasih tahu warung bakso tutup: KARENA ADA PINTUNYA…..”

*

Cerita Berikutnya Kalau Ada Pintunya, Kenapa Buka 24 Jam?

Kalimat Apa Saja yang Sering Ditulis Wartawan?

Kalau kita cermati siaran berita di televisi dan radio, maupun liputan tertulis, ada beberapa hal yang sangat sering ditulis oleh wartawan dan tim redaksi berita. Mereka menulis kalimat itu, tentu dengan pertimbangan, yang entah apa saja. Anehnya, rata-rata wartawan dari kantor berita mana pun, sangat suka menulis semacam itu.

Apa sajakah kalimat yang sering ditulis wartawan? Berikut di antaranya:

1. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun kerugian ditaksir ratusan juta rupiah.

Kalimat ini biasanya disampaikan dalam berita insiden kebakaran. Tidak percaya? Coba ingat-ingat lagi berita kebakaran yang pernah Anda simak.

2. Mawar, bukan nama sebenarnya….

Kalimat ini biasa kita jumpai untuk berita perempuan yang mengalami pelecehan seksual. Selain Mawar, yang juga sering disebut sebagai inisial korban pelecehan seksual adalah Bunga.

Anda mempunyai pengalaman lain atas kalimat apa saja yang sering Anda simak dari para wartawan? Silakan tulis di komentar.

Dan yang juga Penting adalah Kepekaan

(Tulisan ini sebelumnya saya posting di Kompasiana)

DALAM hal menulis, saya masih saja teringat obrolan dengan salah satu penulis terkemuka, Ahmad Tohari. Obrolan ini terjadi beberapa tahun lalu.

“Saya bisa mengajarimu bagaimana gaya menulis. Kita semua bisa meniru gaya menulis penulis lain, “ ujar Ahmad Tohari  pada mulanya. Membuat saya manggut-manggut, menyimpan suatu harapan bahwa saya dan kita semua bisa menghasilkan, secara gaya penulisan, seperti tulisan penulis yang sudah jadi, penulis yang lebih dulu terbukti menghasilkan karya fenomenal sekalipun.

“Yang tidak bisa saya ajarkan,” lanjut Ahmad Tohari, kali ini meyebabkan kedua alis mata saya terangkat, “ …adalah kepekaan.”

Saya menarik napas. Diam menunggu apa maksud Pak Tohari yang sebenarnya.

“Karena kepekaan terkait tidak hanya dengan kecerdasan; namun juga perhatian dan tanggapan kita terhadap apa yang terjadi di sekitar kita; serta pengalaman hidup yang sudah kita alami. Semua itu, secara sadar atau tak sadar, akan kita olah kita dan mempengaruhi saat kita menulis sebuah karya. Kepekaan juga mempengaruhi sudut pandang tulisan kita.”

Walaupun awalnya saya tidak memahami sepenuhnya kata-kata Ahamd Tohari, sekarang barangkali seiring perjalanan waktu, saya menganggap bahwa kata-kata itu sangat benar adanya. Saya bahkan kemudian mencoba memahami bahwa kepekaan dan sudut pandang, adalah hal yang akan membuat tulisan kita berbeda dengan penulis lain. Ini terbukti, saat dua orang menulis satu persoalan yang sama, akan terasa berbeda hasil dari kedua penulis itu.

Belum lama ini saya bertemu dan mengobrol dengan penulis muda berbakat Mercy Sitanggang. Mercy adalah penulis novel-novel bertema komedi remaja dan komedi horor. Karya novelnya bertajuk Hantu Galau dan karya terbarunya Koma (cinta tanpa  titik), mendapat respon bagus dari pembaca tanah air.

Mercy membenarkan dan sangat sepekat, saat saya utarakan padanya soal kepekaan dan sudut pandang seperti di atas. Mercy menganalogikan bahwa menulis tidak jauh berbeda dengan membuat nasi goreng. Dengan bumbu dan bahan yang sama, dua orang akan menghasilkan nasi goreng yang berbeda rasa.

Itulah sebabnya, seorang penulis dan calon penulis wajib peka. Wajib sensitif. Peka dan sensitif untuk mengamati dan mengendapkan serta mengolah apa pun yang terjadi, siapa pun yang ditemui, apa saja yang dialami.

Mungkin perlu bagaimana kita mencoba gaya penulisan karya penulis lain yang sudah terkenal. Percobaan menulis gaya penulis lain bisa didapatkan melalui kelas-kelas kursus penulisan, maupun belajar secara otodidak. Tetapi, yang juga tidak boleh dilupakan adalah bagaimana mengasah kepekaan.

Selamat menulis.

Mata yang Enak Dipandang, Buku Terbaru Karya Ahmad Tohari

(Tulisan ini sebelumnya saya posting di Kompasiana)

MESKIPUN termasuk yang tahu sejak awal perihal penerbitan ulang Mata yang Enak Dipandang (MyED)—buku kumpulan cerpen Ahmad Tohari—jelang akhir 2013 lalu, saya baru menyempatkan membelinya pada awal Januari 2014. Memuat Kang Sarpin Minta Dikebiri—salah satu cerita pendek Ahmad Tohari kesukaan saya—yang berkisah tentang seorang pria dengan gairah seksual yang sangat tinggi, dan karenanya ia meminta untuk dikebiri, MyED juga memuat 14 cerpen lainnya. Dengan demikian, penerbitan ulang MyED oleh PT. Gramedia Pustaka Utama edisi 2013 ini, menambahkan beberapa cerpen yang pada edisi sebelumnya belum dimasukkan dalam MyED.

Sampul MYED

sumber gambar BukuKita.com

Beberapa cerpen yang baru dimasukkan dalam edisi tahun 2013 adalah Harta Gantungan; Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan; Dawir, Turah dan Totol; dan Salam dari Penyangga Langit. Sebelumnya, bersama sejumlah cerpen dari beberapa penulis terkemuka, Harta Gantungan termuat dalam buku kumpulan cerpen Kado Pernikahan yang disiapkan sebagai souvenir pernikahan putra sastrawan dan Kiyai Gus Mus beberapa tahun lalu.

Lain halnya dengan Dawir, Turah dan Totol. Berkisah tentang kehidupan para penghuni area sekitar terminal setelah menghadapi berbagai persoalan akibat dipindahkannya terminal bus ke tempat yang baru. Menurut penulisnya, cerpen yang pernah dimuat di Horison ini, terinspirasi oleh perpindahan terminal bus Purwokerto dari lokasi lama ke lokasi yang sekarang.

Cerpen Dawir, Turah dan Totol terasa istimewa bagi saya. Itu disebabkan karena gaya penceritaan yang lugas. Juga karena penggunaan kalimat yang efektif, yang tidak berpanjang-panjang kata. Cerpen yang sarat dengan realisme sosial ini, juga sangat gaul dalam penggunaan dialog para tokohnya dan pengungkapan narasinya.

*

SEPERTI dalam karya-karya Ahmad Tohari lainnya, MyED juga mengangkat warna lokal dan kehidupan rakyat kecil dengan segala pemikiran dan persoalannya. Persoalan—dan juga penderitaan—masyarakat kecil yang diwakili oleh para tokoh dalam cerpen-cerpen Ahmad Tohari, sungguh menyentuh.

Namun, Tohari mengungkapkan dalam bahasa tulis yang tidak ber-lebay-lebay. Maksud saya tidak ber-lebay-lebay adalah para tokoh itu dengan penderitaan dan kerumitan hidup mereka, tidak diungkapkan dalam bahasa memelas-melas, seolah penulisnya mengajak pembaca harus kasihan.

Sebaliknya, para tokoh yang dilengkapi dengan berbagai persoalan dan penderitaan hidup mereka, diulas dalam deskripsi, narasi dan dialog, sesuai porsi yang tepat, seimbang, namun lengkap. Ini menyebabkan pembaca tersentuh, atau dibiarkan tersentuh, tanpa diberitahu bagaimana perasaan penulisnya.

*

SATU-satunya yang tidak biasa menurut saya dalam MyED terbaru adalah cerpen berjudul Salam dari Penyangga Langit. Saya sebut tidak biasa adalah karena cerpen ini, membahas soal tahlilan. Tahlilan yang menuai tanggapan beragam bahkan dari kalangan umat Islam sendiri, dalam Salam dari Penyangga Langit disodorkan kepada kita para pembaca. Pro kontra, manfaat, hikmah, bahkan penting dan tidak pentingnya tahlilan diungkap dengan gaya Tohari yang khas.

Ketidakbiasaan juga saya dapati dari cerpen ini, tersebab selama ini, walaupun Ahmad Tohari dibesarkan dalam lingkungan agama Islam yang taat, sangat jarang menyodorkan persoalan-persoalan keagamaan secara verbal. Yang ada selama ini dalam karya-karya Tohari adalah jauh dari kata-kata relijiusme seperti yang diusung oleh teman-teman penulis misalnya yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena.

Nilai relijiusme karya Ahmad Tohari adalah relijiusme tanpa kata-kata dan penyebutan istilah keagamaan tertentu. Sehingga karya-karya Ahmad Tohari, seandainya cerpen, itu dianggap bukan sebagai cerpen reliji. Namun demikian, karya-karya non reliji itulah yang sangat sering membawa pesan relijiusme yang sesungguhnya.

Hal itu bisa disebut misalnya dalam penggambaran dan lukisan suasana alam yang sangat kental dalam tulisan Ahmad Tohari, yang bagi saya menyentuh kerelijiusmean tertentu. Untunglah, walau mengangkat persoalan keagamaan, Salam dari Penyangga Langit, yang bisa saja kata ‘malaikat’ digunakan untuk mengganti ‘penyangga langit’, nyatanya tidak dilakukan.

Oleh sebab itu, Mata yang Enak Dipandang terbitan terbaru, menjadi salah satu hadiah spesial tidak hanya bagi penyuka karya Tohari, namun juga bagi para pecinta sastra pada umumnya. Sangat mungkin, seperti karya-karya Tohari lainnya, Mata yang Enak Dipandang adalah juga karya yang sangat ditunggu-tunggu, lebih-lebih di tengah-tengah hiruk pikuk dunia sastra dan perbukuan Indonesia yang terjadi belakangan ini.

*

Tulisan Terkait:

Menunggu Lahirnya Kembali Generasi Sumur

Menunggu Lahirnya Kembali Generasi Sumur

SEKIRA tahun 2000, saya menemukan artikel pendek di harian Kompas. Artikel ini berisi liputan kegiatan sastra. Wartawannya mengulas juga soal proses kreatif dalam menulis. Proses kreatif yang dibahas menguraikan tentang pandangan sastrawan Ahmad Tohari.

Bahwa dunia sastra pantas berbangga sebab semakin banyak penulis muda yang karyanya bermunculan. Beberapa penulis pemula, menghasilkan karya yang langsung disambut hangat oleh masyarakat pembaca. Hal ini tentu menjadi kabar yang menggembirakan.

Namun di satu sisi, muncul kekhawatiran atas kualitas dari karya yang dihasilkan. Apalagi generasi ini juga menandakan adanya keinginan untuk cepat-cepat mencapai tujuan atas suatu hal yang diinginkan.

Generasi instan, yang menurut Tohari disebut atau ibarat ‘generasi hujan’. Seperti sifat hujan, turun tiba-tiba, membasahi tanah dengan cepat. Namun, begitu hujan berhenti, air pun berhenti mengalir. Tanah kembali kering.

Kebalikan dari generasi hujan adalah ‘generasi sumur’. Tanah digali hingga kedalaman tertentu. Sumber air muncul. Air bertahan, tersedia dan bisa dimanfaatkan kapan saja dalam jangka yang panjang.

*

RUPANYA, masyarakat dunia dewasa ini memang lebih menyukai yang serba instan, di bidang apa pun. Dalam bidang menulis, tidak terhitung penulis yang baru muncul dengan satu karya, langsung best seller, menjadikan dirinya merasa hebat. Apa ini salah? Sesungguhnya ini adalah hak. Menjadi generasi apa pun, generasi hujan atau generasi sumur, adalah pilihan masing-masing pribadi.Tetapi jika dikembalikan kepada tanggung jawab, tentu hati nurani yang akan menjawabnya.

Sesuai perkembangan zaman dan kemajuan teknologi pula, sejak beberapa tahun ini muncul banyak penulis yang membuka pelatihan menulis. Penulis yang instan tadi, menularkan ilmu instannya. Beberapa dari kelompok semacam ini mengklaim bisa menghasilkan novel dalam tiga hari. Pernahkah Anda berpikir, novel semacam apa yang bisa ditulis hanya dalam waku tiga hari?

Beberapa lagi merasa bangga karena seluruh rak toko buku dipenuhi oleh karya-karyanya. Jumlah karya yang banyak yang telah diterbitkan, menjadi acuan sebagian penulis sebagai penulis sukses di zaman ini.

*

KEMAJUAN teknologi internet memang disepakati banyak orang sebagai media memudahkan lahirnya banyak penulis. Saat ini, dengan fasilitas teknologi internet, siapa pun bisa mempublikasikan tulisannya melalui blog pribadi, semacam blog saya ini, misalnya. Selain itu penulis pun bisa memposting tulisan mereka melalu situs-situs yang menyediakan citizen journalisme. Belum lagi jejaring sosial seperti facebook dan twitter, yang juga memudahkan orang mempubilkasikan pemikiran mereka melalui tulisan.

Ini tentu saja sangat bagus, sebab semakin banyak orang-siapapun dia-yang tertarik dan mendalami dunia menulis; dan menjadi penulis. Tetapi, karena kemudahan itu jugalah, yang menyebabkan kekurangan dari adanya semangat menulis. Belum pada soal kualitas tulisan yang dihasilkan para penulis. Masih pada sebatas penyajian, atau tahap paling awal pun: tata cara penulisan, banyak orang yang menilai hasil tulisan para penulis di internet, masih jauh dari baik. Ini terkait dengan tanda baca, pemilihan kata, dan hal-hal ringan yang sesungguhnya sangat mendasar yakni EYD. Oleh karena itu, sangat wajar bahwa tulisan di internet dianggap jauh dari bermutu.

Penilaian dan teguran yang cukup keras tadi, sesunggunya sangat layak bagi kita-para penulis di internet-untuk meningkatkan kualitas, bukan menjadi bahan kemarahan yang tetap menjadikan diri kita merasa sudah benar. Jika generasi instan seperti kita-lah yang akan memeriahkan dunia penulisan di masa kini dan masa depan, sangat penting bagi kita untuk semakin memperbaiki tulisan kita, sebagai bentuk pertanggungjawaban kita sebagai penulis.

Semoga dengan demikian, walau melalui media internet dan termasuk generasi instan, akan muncul penulis generasi sumur, yang tulisannya ibarat air yang bisa dimanfaatkan kapan pun di bumi Indonesia dan dunia.

Dari Sentul ke Pondok Kopi, 25-28 Oktober 2013

(Tulisan ini sebelumnya saya posting di Kompasiana)